Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN KEBIDANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN KEBIDANAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

Manajemen Kebidanan

Manajemen Kebidanan menurut Helen Varney (1997)
Varney (1997) menjelaskan proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat dan bidan pada awal tahun 1970 an.

LANGKAH 1. PENGUMPULAN DATA DASAR
Pada langkah ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien lengkap, yaitu
1.            Riwayat kesehatan
2.            Pemeriksaan fisik sesuai kebutuhannya
3.            Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya
4.            Meninjau data laboratorium

LANGKAH 2. INTERPERETASI DATA DASAR
Pada langkah ini dilakukan identifikasi diagnosis, kebutuhan dan masalah klien berdasarkan interpretasi yang benar atas dasar data-data yang telah dikumpulkan
1.            Diagnosis Kebidanan yaitu diagnosis yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur (tata nama) diagnosis kebidanan.
Syarat Standar nomenklatur kebidanan:
a.       Diakui dan dsyahkan oleh profesi
b.      Berhubungan langsung dengan praktis kebidanan
c.       Memiliki ciri khas kebidanan
d.      Didukung oleh clinical judgement dalam praktik kebidanan
e.       Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
.
    2.  Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai diagnosis
Contoh Rumusan masalah:
Masalah
Dasar
Wanita hamil trimester III merasa cemas
Wanita mengatakan takut menghadapi persalinannya
3.     Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum teridentifikasi dalam diagnose dan maslah yang didapatkan dengan melakukan analisa data.
Kebutuhan
Dasar
Wanita hamil memiliki hewan peliharaan
Kebutuhan :
Penyuluhan bahaya binatang terhadap kehamilan
Pemeriksaan TORCH
Ibu mengatakan seluruh keluarga menyayangi binatang

LANGKAH III . IDENTIFIKASI DIAGNOSIS ATAU MASALAH POTENSIAL
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman. Bila diagnosa potensial tidak muncul maka tindakan antisipasi tidak kaan muncul
Contoh :
Seorang wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pembesaran uterus yang berlebihan tersebut, misalnya:
· Besar dari masa kehamilan
· Ibu dengan diabetes kehamilan, atau
· Kehamilan kembar
Kemudian dia harus mengantisipasi, melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan.
Pada persalinan dengan bayi besar, bidan sebaiknya mengantisipasi dan bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya distosia bahu dan juga kebutuhan untuk resusitasi. Bidan juga sebaiknya waspada terhadap kemungkinan wanita menderita infeksi saluran kencing yang menyebabkan tingginya kemungkinan terjadinya peningkatan partus premature atau bayi kecil.
Persiapan yang sederhana adalah dengan bertanya dan mengkaji riwayat kehamilan pada setiap kunjungan ulang, pemeriksaan laboratorium terhadap simptomatik terhadap bakteri dan segera memberi pengobatan jika infeksi saluran kencing terjadi.
Bidan dituntut mampu mengantisipasi masalah potensial. Tidak hanya merumuskan maslah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah potensial tidak terjadi.

LANGKAH IV. PENETAPAN KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan, terus-menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.
Data baru mungkin saja perlu dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak (misalnya perdarahan kala III atau perdarahan segera setelah lahir, distosia bahu, atau nilai APGAR yang rendah).
Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yang lain harus menunggu intervensi dari seorang dokter, misalnya prolaps tali pusat. Situasi lainnya bisa saja tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Demikian juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari pre-eklampsia, kelainan panggul, adanya penyakit jantung, diabetes atau masalah medik yang serius, bidan perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan klien.

LANGKAH V. MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah dididentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi/data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial-ekonomi, kultural atau masalah psikologis.
Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut. Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
 keputusan yang dikembangkan dalam asuhan yang menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengethuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan atau tidak akan dilakukan klien.
Rasional berarti tidak berdasarkan asumsi, tetapi sesuai dengan keadaan klien dan pengetahuan teori yang benar dan memadai atau berdasarkan suatu data dasar yang lengkap, dan bisa dianggap valid sehingga menghasilkan asuhan klien yang lengkap dan tidak berbahaya.

LANGKAH VI : MELAKSANAKAN PERENCANAAN

Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke 5 dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan yang lain. Jika bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. (misalnya: memastikan agar langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana). Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter, untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut.
Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien.

LANGKAH VII : EVALUASI

Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaiman atelah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaanya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.
Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kontinum, maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses manajemen tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tersebut.
Langkah-langkah proses manajemen pada umumnya merupakan pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis. Karena proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah yang terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen ini dievaluasi dalam tulisan saja.

Rabu, 07 Maret 2012

KONSEP KEBIDANAN


DEFINISI BIDAN menurut ICM 2005
       Seseorang yg telah mengikuti prog pendidikan bidan yg diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tsb, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki ijin yg sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan 
      Bidan diakui sbg tenaga kerja profesional yg bertg jwb & akuntabel, yg bekerja sbg mitra perempuan u/ memberikan dukungan, asuhan & nasehat selama masa hamil, masa persalinan & masa nifas, memimpin persalinan atas tg jwb sendiri & memberikan asuhan kpd bayi baru lahir & bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi, persalinan normal, deteksi komplikasi pd ibu & anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yg ssi, serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan.       n  
      Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling & pendidikan kesehatan, tidak hanya kpd perempuan, tetapi juga kpd keluarga & masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan mjd orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan , kesehatan reproduksi dan asuhan anak
n     Bidan dpt praktik di berbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, RS, klinik atau unit kesehatan lainnya. 
DEFINISI BIDAN MENURUT IBI 2007
n       Seorang perempuan yg lulus dari pendidikan bidan yg diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi u/ diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi u/ menjalankan praktik kebidanan
FALSAFAH KEBIDANAN
  • nKeyakinan ttg kehamilan dan persalinan. Hamil & bersalin mrp suatu proses alamiah dan bukan penyakit.
  • nKeyakinan ttg perempuan. Setiap perempuan adalah pribadi yg unik, mempunyai hak, kebutuhan, keinginan masing-masing. Oleh sebab itu perempuan harus berpartisipasi aktif dalam setiap asuhan yg diterimanya.
  • nKeyakinan fungsi profesi dan manfaatnya. Fungsi utama profesi bidan adalah mengupayakan kesejahteraan ibu & bayinya, proses fisiologis harus dihargai, didukung & dipertahankan. Bila timbul penyulit dpt menggunakan teknologi tepat guna & rujukan yg efektif, u/ memastikan kesejahteraan perempuan & janin/ bayinya.
  • nKeyakinan ttg perempuan & membuat keputusan. Perempuan hrs diberdayakan u/ mengambil keputusan ttg kesehatan diri & keluarganya mll komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) dan konseling. Pengambilan keputusan mrp tg jwb bersama antara perempuan, keluarga dan pemberi asuhan.
  • nKeyakinan tentang tujuan Asuhan. Tujuan utama asuhan kebidanan u/ menyelamatkan ibu dan bayi (me< kesakitan & kematian). Asuhan kebidanan berfokus pada : pencegahan, promosi kesehatan yg bersifat holistik, diberikan dg cara yg kreatif & fleksibel, suportif, peduli ; bimbingan, monitor & pendidikan berpusat pd perempuan; asuhan berkesinambungan, sesuai dg keinginan & tidak otoriter serta menghormati pilihan perempuan
  • nKeyakinan tentang kolaborasi dan kemitraan. Praktik kebidanan dilakukan dg menempatkan perempuan sbg partner dg pemahaman holostik thd perempuan sbg satu kesatuan fisik, psikis, emosional, sosial, budaya, spiritual serta pengalaman reproduksinya. Bidan memiliki otonomi penuh dalam praktiknya yg berkolaborasi dg tim kesehatan lainnya.
  • nSebagai profesi bidan mempunyai pandangan hidup Pancasila. Seorang bidan menganut filosofi yg mempunyai keyakinan di dalam dirinya bhw semua manusia adalah mahluk bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual yg unik, mrp satu kesatuan jasmani dan rohani yg utuh dan tidak ada individu yg sama.
  • nBidan berkeyakinan bhw setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yg aman dan memuaskan ssi dg kebutuhan dan perbedaan kebudayaan. Setiap individu berhak menentukan nasib sendiri dan mendapatkan informasi yg cukup dan untuk berperan disegala aspek pemeliharaan kesehatannya.
  • nSetiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat. Untuk itu maka setiap wanita usia subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yg berkualitas.
  • nPengalaman melahirkan anak mrp tugas perkembangan keluarga, yg membutuhkan persiapan sampai anak menginjak masa-masa remaja.
  • nKeluarga-keluarga yg berada di suatu wilayah/daerah membentuk masyarakat kumpulan dan masyarakat Indonesia di dalam satu kesatuan bangsa Indonesia. Manusia terbentuk karena adanya interaksi antara manusia dan budaya dalam lingkungan yg bersifat dinamis, mempunyai tujuan dan nilai-nilai yg terorganisir.
 
Kebidanan (Midwifery)

       Merupakan ilmu yg terbentuk dari sintesa berbagai disiplin ilmu (multi disiplin) yg terkait dg yan kebid, meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu perilaku, ilmu sosial budaya, ilmu kes masy & ilmu manajemen u/ dpt memberikan yan kpd ibu dlm masa pra konsepsi, hamil, bersalin, post partum, bayi baru lahir 
 
Tinjauan keilmuan kebidanan
  • nPendekatan Ontologis (Realitas; metafisik), diperlukan verifikasi dalam proses penemuan & penyusunan pernyataan yg bersifat benar scr ilmiah.
  • nPendekatan epistemologis, tercermin secara operasional dalam metoda ilmiah; Metoda ilmiah mrp cara ilmu menyusun tubuh pengetahuannya (berdasar : logica – hypotetico – verifikatif (deducto) – hypotetico – verifikatif)
  • nPendekatan Aksiologis, menyangkut nilai-nilai yg berkaitan dg pengetahuan ilmiah baik secara internal, eksternal maupun sosial.
  • Internal = wujud & kegiatan ilmiah dlm memperoleh pengetahuan tanpa mengesampingkan fitrah manusia
  • Eksternal = nilai-nilai yg menyangkut penggunaan pengetahuan ilmiah
  • Sosial = menyangkut pandangan masy. Yg menilai keberadaan suatu pengetahuan & profesi ttt.
  • nObjek Forma disiplin ilmu kebidanan : Mempertahankan kesehatan status kesehatan reproduksi termasuk kesejahteraan wanita sejak lahir sampai masa tuanya (late menopause) termasuk berbagai implikasi dalam siklus kehidupannya.
  • nObjek Materia : janin, bayi baru lahir, Balita, dan wanita secara utuh/holistik dalam siklus kehidupannya (kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa, lansia dini, lansia lanjut) yg berfokus pd kespro.
BODY OF MIDWIFERY KNOWLEDGE
  • nIlmu dasar (anatomi, psikologi, mikrobiologi, parasitologi, fisika, Biokimia)
  • nIlmu sosial (Kewarganegaraan, bahasa, sosiologi, antropologi, administrasi, komunikasi, humaniora)
  • nIlmu terapan (kedokteran, farmakologi, epidemiologi, statistik, KDPK, gizi, hukum kesehatan, metode riset, kesehatan masyarakat
  • nIlmu kebidanan
PELAYANAN KEBIDANAN
       Bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yg diberikan oleh bidan yg telah terdaftar (teregister) yg dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan.
  • Seluruh tugas yg mjd tg jwb praktik profesi bidan dalam sistem yan kes yg bertu/ meningkatkan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat
  •     Pelayanan kebidanan dapat dibedakan mjd yan kebid primer, kolaborasi dan rujukan.”
Implementasi dari atau ilmu kebidanan oleh bidan yang bersifat otonom kepada perempuan, keluarga dan komunitasnya, didasari etika dan kode etik bidan”.
“ Penerapan ilmu kebidanan dalam memberikan yan/asuhan kebidanan kpd klien dg pendekatan manajemen kebidanan”.
Penerapan fungsi & kegiatan yg mjd tg jwb dlm memberikan yan kpd klien yg mempunyai kebutuhan/masalah dlm bidang kesehatan ibu masa hamil, persalinan, nifas, bayi baru lahir & keluarga berencana.
MANAJEMEN KEBIDANAN
Pendekatan dan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.